Berita Indonesia Terlengkap

Berita Indonesia Terlengkap

Yordania Mendorong Hak-hak Perempuan Dan Kesetaraan Gender

BeritaIndo – Seruan pemberdayaan perempuan datang langsung dari jantung kekuasaan Yordania. Di akun instagram, Ratu Rania Al-Abdullah mendeskripsikan dirinya sebagai ‘”seorang ibu dan seorang istri dengan pekerjaan sehari-hari yang sangat keren” dan memberi judul postinganya ”Pemberdayaan”

Akhir Januari lalu, amandemen konstitusi akhirnya disetujui oleh majelis perwakilan. Pasal 6 sekarang menyatakan bahwa ”pria dan wanita Yordania harus sama di depan hukum. Tidak ada diskriminasi di antara mereka sehubungan dengan hak dan kewajiban mereka atas dasar ras, bahasa atau agama”. Artikel konstitusi sebelumnya hanya menyebut warga Yordania tanpa spesifikasi lebih lanjut.

Amandemen itu sejalan dengan target resmi pemerintah untuk mencapai kesetaraan gender pada tahun 2030.

Perubahan itu bukan tanpa kontroversi. Bulan Desember lalu bahkan sempat terjadi kericuhan dan adu jotos di parlemen Raed al-Sirat menyebut seluruh diskusi itu sebagai ”aib”, Ketua Parlemen Abdalkarim al-Dugmi lalu mengeluarkan dia dari debat. Alhasil, terjadi saling pukul yang viral di media sosial.

Pada Akhirnya, amandemen konstitusi diterima dengan 94 suara setuju dan 26 suara tidak setuju dari seluruhnya 130 anggota parlemen.

Namun perkelahian di parlemen menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bukanlah tugas yang mudah, juga tidak sederhana, kata Wafa Bani Mustafa. ”Tetapi ang penting adalah, kami mampu melakukannya,”.

Salah satu perbedaan paling kontroversial adalah hak untuk mewariskan kewarganegaraan Yordania kepada anak-anak. Saat ini, undang-undang membatasinya seperti di banyak negara Timur Tengah lainnya hanya untuk anak-anak dari ayah Yordania.

Namun, lebih dari 110.000 perempuan Yordania menikai dengan pria non-Yordania, termasuk 55.000 pengungsi Palestina. ”Hukum Yordania hanya mengizinkan ayah untuk memberikan kewarganegaraan kepada anak-anak mereka,” Kata Humas Rights Watch. Kecil kemungkinan hal ini akan berubah dalam waktu dekat lebih realistis untuk mengharapkan perubahan di bidang lain, seperti kesenjangan upah antara lelaki dan perempuan, atau tingkat partisipasi perempuan dalam angkatakan kerja.

Yordania memiliki jumlah perempuan lulusan universitas yang tertinggi di kawasan itu, mamun pada saat yang sama memiliki jumlah perempuan yang terendah dalam angkatan kerja. ”Saya telah melihat peningkatan signifikan perempuan dalam bisnis pada sepuluh tahun terakhir,” Kata Deema Anani, kepala Digital Arabia Network di Amman dan anggota pendiri Asosiasi Pengusaha Muda, kepada DW.