October 18, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Termasuk Indonesia, Ini 3 Kawasan Tren Kasus Corona Menurun

Termasuk Indonesia, Ini 3 Kawasan Tren Kasus Corona Menurun

Beritaindo.info, JakartaMenlu Retno Marsudi mengatakan negara dengan tingkat vaksinasi tinggi mulai mengalami lonjakan kasus COVID-19. Tapi kenaikan kasus Corona tidak diikuti jumlah orang yang dirawat maupun angka kematian.

“Dirjen WHO mengatakan, pada beberapa negara dengan tingkat vaksinasi yang tinggi, terjadi terputusnya hubungan antara kenaikan kasus dengan tingkat kematian. Artinya, meskipun terjadi lonjakan kasus, tidak diikuti dengan kenaikan rawat inap dan kematian,” kata Menlu Retno dalam YouTube Setpres, Sabtu (11/9/2021).

“Dan ini membuktikan bahwa vaksin bekerja, vaccine works,” ungkapnya.

Lebih lanjut Retno berbicara terkait jumlah kasus Corona secara global telah melewati 223 juta dan angka kematian lebih dari 4,6 juta. Berdasarkan update WHO terakhir, jumlah kasus baru relatif stabil dalam 1 bulan terakhir.

Selain itu, terjadi tren penurunan kasus Corona di tiga kawasan WHO dalam satu minggu terakhir, yaitu Afrika, Asia Tenggara, dan Mediterania Timur. Sebaliknya, tren kenaikan terjadi di kawasan Amerika, sementara Indonesia mengalami tren penurunan.

“Alhamdulillah, Indonesia merupakan salah satu negara yang terus mengalami tren penurunan. Di dalam beberapa hari terakhir, positivity rate nasional berhasil turun di bawah angka 5 persen, yang merupakan ambang batas WHO, di mana pada saat Juli lalu, saat kita mengalami kasus yang sangat banyak sekali, positivity rate nasional kita melampaui 31 persen,” ucap Retno.

Dalam kesempatan yang sama, Wamenkes Dante Saksono mengatakan, meskipun Indonesia mengalami tren penurunan kasus aktif dan kematian, perlu dilakukan upaya percepatan vaksinasi. Selain itu, masyarakat diimbau tetap mematuhi protokol kesehatan agar tidak terjadi lagi lonjakan kasus Corona.

“Negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia, India, dan Singapura, saat ini kembali mengalami lonjakan kasus karena pelanggaran protokol kesehatan. Kebijakan PPKM yang saat ini masih berlangsung bertujuan agar jangan sampai Indonesia kembali mengalami lonjakan kasus,” ujar Dante.

“Untuk itu, kita harus mematuhi kebijakan yang sudah dikeluarkan pemerintah karena bertujuan untuk kebaikan kita bersama. Selain mematuhi protokol kesehatan, jangan lupa juga untuk mengikuti program vaksinasi nasional. Tidak usah pilih-pilih vaksin. Vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia saat ini,” imbuhnya.

Dante mengimbau masyarakat tidak memilih-milih vaksin dan menunda vaksin. Hal itu agar tidak masyarakat yang terpapar virus Corona tidak mengalami dampak yang parah.

Sebelumnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI menyampaikan evaluasi efektivitas vaksin COVID-19. Berdasarkan hasil studi itu, ditemukan vaksin mampu menurunkan risiko COVID-19 hingga mengurangi angka perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan.

Dilansir dari situs Kemenkes, studi tersebut dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta, meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Studi tersebut mengamati kasus konfirmasi positif COVID-19, perawatan, dan kematian karena COVID-19 pada tiga kelompok tenaga kesehatan, yaitu mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap (dosis kedua), dan yang belum divaksinasi. Para tenaga kesehatan ini mayoritas mendapatkan vaksin Sinovac.

Adapun saat laporan tersebut diturunkan, ada 143 ribu orang SDM Kesehatan di DKI Jakarta telah divaksinasi dosis pertama dan 125.431 orang telah divaksinasi dosis kedua. Kemenkes menyebut penelitian tersebut dilakukan dalam kondisi pandemi yang dinamis, mengingat sepanjang Januari-Juni 2021 terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus COVID-19 serta dinamika komposisi variants of concern, yaitu adanya mutasi varian Delta, baik di wilayah DKI Jakarta maupun nasional.

Sementara itu, juru vicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmidzi, mengatakan sebanyak 5 persen dari tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap dilaporkan terkonfirmasi COVID-19 pada periode April-Juni 2021. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi COVID-19 pada periode Januari-Maret 2021, yang jumlahnya hanya 0,98 persen.

“Namun, jumlah tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap yang harus dirawat jauh lebih rendah (0,17%) ketimbang mereka yang belum divaksinasi (0,35%). Hal ini menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 yang saat ini digunakan efektif terhadap mutasi virus COVID-19,” kata Nadia.