October 18, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Taliban Ungkap Politik Dua Kaki Paman Sam di Afghanistan

BeritaIndo – Amerika Serikat (AS) mengklaim pembicaraannya dengan kelompok Taliban di Doha, Qatar, berlangsung jujur dan profesional. Namun, Taliban Justru menuding negeri Paman Sam itu bermain dua kaki.

Dalam pertemuan itu, AS menegaskan bahwa Taliban yang kini menguasai Afghanistan akan dinilai dari tindakan mereka, bukan hanya kata-kata mereka saja.

Pertemuan tatap muka antara AS dan Taliban itu menjadi yang pertama digelar sejak tentara AS menarik pasukan dari Afghanistan dan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya menyebut bahwa delegasi AS dalam dialog akhir pekan di Doha fokus membahas kekhawatiran keamanan dan terorisme, serta soal jalur aman bagi warga Negara AS, warga negara lainnya dan warga Afghanistan.

Kemudian juga membahas soal hak asasi manusia (HAM), termasuk partisipasi berarti oleh perempuan dalam segala aspek di masyarakat Afghanistan. Baik AS maupun Taliban juga disebut membahas bantuan kemanusiaan AS untuk rakyat Afghanistan.

”Diskusinya berlangsung jujur dan profesional dengan delegasi AS menegaskan kembali bahwa Taliban akan dinilai dari tindakannya, tidak hanya kata-katanya,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.

Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Afghanistan menuturkan kepada Al Jazeera bahwa perwakilan Taliban meminta AS untuk mencabut pemblokiran dana cadangan Bank Sentral Afghanistan.

Sementara para pejabat pemerintahan Presiden Joe Biden menuturkan kepada Reuters pada Jumat (8/10) waktu setempat bahwa delegasi AS akan menekan Taliban untuk membebaskan warga AS bernama Mark Frerichs yang diculik.

Prioritas utama lainnya adalah membuat Taliban memenuhi komitmen mereka untuk tidak membiarkan Afghanistan kembali menjadi sarang Al-Qaeda ataupun kelompok Ekstremis lainnya.

Taliban Mengambil Alih kekuasaan di Afghanistan sekitar 20 tahun setelah kelompok radikal ini digulingkan pasukan AS karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda saat itu, mendiang Osama Bin Laden, menyusul serangan teror 11 September 2001 di AS.

Para pejabat AS menyebut bahwa pertemuan itu menjadi kelanjutan dari keterlibatan pragmatis dengan Taliban dan bukan soal memberikan pengakuan atau memberikan legitimasi untuk Taliban.