October 21, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Suami Palsukan Dokumen Agar Istri Bisa Nikah Lagi

BeritaIndo – Pasangan Suami Istri (Pasutri) di Rembang, Sucipto (44) dan Badriyah, ditetapkan sebagai tersangka kasus pemalsuan dokumen. Sucipto palsukan dokumen Badriyah agar istrinya itu bisa menikah lagi dengan status sebagai perawan.

Kapolres AKBP Dandy Ario Yustiawan mengatakan, modus pasutri ini yakni Sucipto memalsukan data diri istrinya dengan menggunakan identitas SC, teman kerja Badriyah. Aksi pasutri ini mulai terendus saat SC hendak mendaftar pernikahan di KUA Kecamatan Lasem.

Saat itu berkas pendaftaran SC tersebut ditolak KUA Kecamatan Lasem, karena nama SC tercatat sudah menikah dengan pria inisial AK. Padahal, SC tak pernah menikah dengan siapapun sebelumnya.

”Terbongkarnya kasus pemalsuan tersebut dikarenakan pemilik identitas asli atau korban (SC) akan menikah dengan calon suaminya dan pada saat emngajukan pernikahan di KUA Lasem status pemilik identitas asli statusnya sudah menikah,” Jelas Dandy di Mapolres Rembang, Senin (13/9/2021).

Setelah kasus ini terungkap, polisi akan meminta KUA untuk membatalkan segala dokumen terkait pernikahan Badriyah yang memakai identitas SC.

”Nanti kita akan koordinasi dengan Pihak KUA, untuk membatalkan akta ini. Kemudian si korban agar bisa menikah,” Papar Dandy.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Hery Dwi Utomo Hery mengatakan bahwa Sucipto sepakat Badriyah menikah lagi karena faktor ekonomi. Badriyah menbggunakan aplikasi Michat untuk mencari pria yang mau menikah dengannya.

Setelah Badriyah mendapatkan identitas SC, Sucipto yang bekejera seabgai perangkat desa dengan leluasa memalsukan dokumen syarat pernikahan untuk istrinya itu dengan pria inisial AK.

”Ngurus suratnya langsung dilakukan oleh Sucipto karena perangkat. Sampai masuk ke KUA, dan lain sebagainya bisa dilakukan, bahkan akta nikah juga akhirnya bisa di dapat, dan sah. Jadi Badriyah itu menikah lagi dengan AK dengan menggunakan identitas SC,” Kata Hery.

”Selama pernikahan tersebut Badriyah mendapatkan uang kebutuhan dari setiap minggunya sebesar Rp 450 ribu. Lalu uang tersebut Badriyah diberikan kepada Sucipto.

Selain faktor ekonomi, muncul pengakuan jika Badriyah merasa kurang puas dengan Sucipto. Meski Begitu, Badriyah tetap mempertahankan ikatan perkawinan dengan Sucitpo. Atas perbuatannya, pasutri ini dijerat dengan pasalk 264 ayat 1 KUHP tentang pemalsuan surat dengan hukuman penjara 6 tahun.