October 21, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Newcastle United Dibeli Arab Saudi, Mengapa Sampai Menyeret Isu HAM?

BeritaIndo – Pembelian klub sepak bola Liga Premier Inggris, Newcastle United, oleh konsorsium Arab Saudi senilai 305 juta Poundsterling (5,9 triliun lebih ) telah disetujui.

Namun kesepakatan itu menimbulkan kontroversi besar, karena Arab Saudi dituduh berusaha mengalihkan perhatian dari catatan buruk hak asasi manusia di negerinya.

Sejumlah kritikus, di antaranya Amnesty International, menuduh negara kerajaan itu berupaya mengalihkan isu tersebut dengan cara melibatkan diri dalam dunia sepak bola papan atas yang glamor.

Mereka menganggap Arab Saudi menerapkan suatu strategi yang disebutkan sebagai pembersihan diri lewat olahraga. Sebelumnya, Liga Premier mengatakan telah mendapat jaminan yang mengikat secara hukum bahwa Kerajaan Arab Saudi tidak mengendalikan Newcastle.

Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi, yang akan menyediakan 80% dana sesuai kesepakatan, dipandang terpisah dari otoritas tertinggi negara itu.

Kesepakatan itu dianggap sepenuhnya terlepas dari kehadiran Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, walaupun dia terdaftar sebagai ketua PIF.

Bagaimanapun, keputusan ini dirayakan suporter klub tersebut dengan berkumpul di stadion St James Park, Tempat Newcastle.

Persetujuan itu sekaligus mengakhiri 14 tahun masa jabatan Mike Ashley sebagai pemilik Newcastle United. PIF yang memiliki aset sebesar 250 Miliar Poundsterling  sebagai salah satu klub terkaya di dunia.

Siapapun lebih berharap kesepatakan itu terjadi pada Januari 2022 ketika penyelesaian sengketa arbitrase antara calon pemodal baru dengan pengelola Liga Premier tentang siapa pemilik Newcastle, dijadwalkan.

Salah satunya yang menjadi kendala adalah isu pelanggaran hak asasi manusia yang dikaitkan dengan otoritas tertinggi negara itu. Yang perlu dilakukan konsorsium adalah membuktikan bahwa Dana Investasi Publik Arab Saudi terpisah sepenuhnya dari negara. Hal ini agak sulit direalisasikan karena Putra Mahkota Mohammed Bin Salman juga terdaftar sebagai ketua PIF.

Konsorsium juga dapat memberikan contoh nyata bagaimana PIF sudah berinvestasi di sejumlah perusahaan, termasuk tim F1 McLaren tanpa adanya kontrol negara.

Tidak diragukan lagi, sebagian besar fans merayakan pengambilalihan ini, terlepas dari dampak putusan nantinya. Survei yang dibuat oleh Newcastle United Supporters Trust (NUST) mengungkapkan 93,8% anggotanya mendukung. Namun angka ini turun dari tahun sebelumnya 97%.

Mereka berharap pundi-pundi itu dapat mendatangkan pemain top asal Prancis, Kylian Mbappe, atau merekrut Antonio Conte sebagai pengganti Bruce. Terlepas dari desakan Liga Premier League agar PIF terpisah dari otoritas tertinggi Kerajaan Arab Saudi, berbagai organisasi hak asasi manusia masih meyakini hal itu sulit dilepaskan.

Para pegiat HAM lainnya mengatakan kepada BBC Bahwa persoalan HAM ini tidak akan  gilang, meskipun proses pengambilalihan klub itu sudah tuntas.

Nasib Steve Bruce yang menyebut dirinya sebagai fans Newcastle, mengatakan hanya menginginkan yang terbaik untuk klub, dan jiak itu berarti pengambilalihan, maka itu bagus.

Tetapi dengan pemilik baru yang berusaha membangun ikatan dengan suporternya, posisi manaher berusia 60 tahun itu terancam. Ditanya tentang masa depan Bruce, Staveley berkata,” Semua pertanyaan itu untuk bulan depan, itu bukan pertanyaan untuk hari ini.

Dia sebelumnya memuji mantan manajer Newcastle, Rafael Benitez, ketika dia pertama kali pindah ke klub itu pada 2018. Para fans Newcastle mengatakan mereka menginginkan sosok Conte, eks manajer Juventus, timnas Italia dan Chelsea.