November 29, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Mulai Bayar Cicilan Utang Rp 1 Triliun, Saham Evergrande Naik

BeritaIndo – Raksasa properti China yang tengah mengalami kasus gagal bayar (default), Evergrande, sedikit demi sedikit mulai membayar utangnya yang jatuh tempo pada tanggal 23 September 2021 lalu.

Pembayaran dilakukan di hari-hari terakhir masa tenggang 30 hari sejak jatuh tempo. Diketahui, Evergrande membayar bunga utang obligasi berdenominasi dollar AS sebesar 83,5 juta dollar AS atau Rp 1,16 triliun (kurs Rp 14.000).

Saham Evergrande ditutup naik 4,26 persen usai pembayaran utang. Pasalnya, pembayaran bunga utang sedikit banyak mampu mencegah default secara luas.

Laporan Securities Times mnejelaskan, pembayaran bunga utang tersebut dikirim melalui Citibank kepada para investornya yang didominasi investor asing.

Secara total, raksasa properti kedua terbesar ini telah melewatka nempat pembayaran kupon obligasi lainnya pada September dan Oktober 2021. Selain kupon Obligasi berdenominasi dollar AS yang jatuh tempat pada bulan November-Desember 2021.

Dengan demikian, Evergande melewatkan pembayaran setidaknya senilai 279 juta dollar AS sejak bulan lalu, Termasuk kupon jatuh tempo pada 23 September 2021 ini. Evergrande sendiri memiliki beban utang lebih dari 300 miliar dollar AS.

Utang Evergrande yang menggunung memicu ketakutan di pasar global karena berpotensi memunculkan efek rambatan ke seluruh industri real estate China.

Ketakutan Pasar juga dipicu oleh gagalnya perusahaan memperoleh dana dari penjualan beberapa asetnya untuk membayar urang. Tercatat dalam pembicaraan di awal bulan ini, manajemen menjual 50,1 persen saham di Evergrande Property Service kepada Hopson Development Holdings.

Tetapi Hopson baru-baru ini mengumumkan bahwa kesepatakan itu gagal. Padahal jika berhasil, kesepakatan bernilai 20,04 miliar dollar Hong Kong atau 2,58 Miliar dollar AS.

Ketakukan lainnya adalah proyeksi pembayaran kupon investor domestik akan diprioritaskan sebelum investor asing. Namun, hal ini mereda setelah bank sentral China menegaskan, perusahaan properti yang telah menerbitkan obligasi global harus aktif memenuhi seluruh kewajiban pembayarang utang.