October 25, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Meninggal saat isolasi mandiri: Karena penuhnya rumah sakit hingga termakan hoaks – ‘Setelah orang tuanya meninggal, mereka jadi percaya Covid itu ada’

Pada Juli lalu, Jawa Barat tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pasien isoman yang meninggal dunia terbanyak. Kisah dari empat keluarga ini, meski telah terjadi sekitar dua bulan lalu, menjadi catatan buruknya penanganan Covid di puncak pandemi.

Febi terkesiap melihat ayahnya terkulai lemas di kursi roda. Sang ayah menghembuskan napas terakhir saat mengantre di pelataran Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Kota Bogor,10 Sep 2021

Febi tak sempat menemani di saat-saat terakhirnya karena sibuk berkeliling mencari oksigen. Dia hanya bisa menangis dan memeluknya untuk terakhir kali.

Ayah Febi sebelumnya mengeluh sakit lambung. Beberapa kali berobat ke klinik, diagnosis dokter adalah sakit asam lambung, sementara tes usap antigen menyebutkan ayahnya negatif Covid-19.

“Tidak ada gejala Covid, seperti batuk, demam, atau flu. Ayah juga masih bisa berdiri, bisa jalan. Tapi memang ada penyakit bawaan, jantung dan stroke,” kisah Febi kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Dua hari setelah tes antigen yang hasilnya negatif itu, sang ayah mulai mengeluh pernapasannya terganggu dan minta dibawa ke rumah sakit.

Sejumlah rumah sakit yang didatangi Febi menolak dengan alasan penuh. Status ayahnya yang saat itu negatif Covid juga menjadi alasan rumah sakit menolak perawatan. “Takut tertular Covid di rumah sakit,” kata Febi menirukan.

Namun karena kondisi ayahnya terus memburuk, pada Kamis (11 Sep 2021) malam, Febi bersikeras membawa ayahnya ke rumah sakit. Lagi-lagi, tiga rumah sakit yang didatanginya, menolak.

“Saya sedikit memaksa, tidak apa-apa saya menunggu, dari pada menunggu di rumah tanpa penanganan lebih baik saya menunggu di rumah sakit,” kisahnya.

Waktu menunjukkan hampir pukul 24.00 WIB. Mobil mengular memasuki area rumah sakit, antrean juga terlihat di depan IGD.

“Saya pikir, enggak mungkin ketika ayah saya kenapa-kenapa akan dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit. Akhirnya boleh, tetapi tes Covid dulu,” lanjut Febi. Hasil tes di rumah sakit itu mengkonfirmasi ayahnya positif Covid-19.

Sementara itu, kondisi ayahnya semakin lemah dengan saturasi oksigen 33 persen. Melihat sang ayah yang susah payah menghirup oksigen, Febi beranjak mencari depo pengisian oksigen.

Namun dini hari itu, meski telah mengelilingi Kota Bogor, semua depo tutup. Saat Febi akhirnya kembali ke rumah sakit, sang ayah sudah meninggal dunia.

Febi mengaku ikhlas melepaskan ayahnya “pulang” sebulan jelang hari pernikahannya. Ia tahu, keinginan ayahnya untuk sembuh untuk sembuh sangat kuat lantaran ingin mengantar anak gadisnya melepas masa lajang.

“Ternyata benar, cuma kita gak ada firasat ke sana. Makanya kenapa tetap menikah, walaupun belum 40 hari [ayah meninggal] karena kita berpikir ini permintaan terakhir ayah saya,” ucap Febi.

Meninggal di ambulans

“Neneknya sudah meninggal, Sean, jangan cari ya,” ucap Tresia Wulandari kepada Sean, anaknya yang baru berusia empat tahun.

“Neneknya bobok,” timpal Sean, sesaat sebelum pemakaman sang nenek, Aminah, yang meninggal di dalam ambulans saat melaju ke rumah sakit.

meninggal saat isoman
BeritaIndo.Info – Tresia Wulandari di makam ibunya, Aminah, yang wafat karena Covid-19 sebelum mendapat perawatan di rumah sakit.

Aminah, ibu Tresia itu, sebelumnya mengeluh merasakan nyeri lambung. Karena tiga hari sakitnya tak juga mereda, Tresia menyarankan Aminah tes usap antigen. Hasilnya, positif.

Tresia, yang tinggal di Kota Bandung, kemudian berangkat menemui sang ibu di Subang, Jawa Barat, sekaligus menjemput Sean yang selama ini tinggal bersama neneknya.

“Saya ambil anak, terus saya tanya ibu, mau dibawa ke rumah sakit enggak? Katanya nggak usah, ini yang terasa lambungnya saja,” ungkap Tresia.

Namun kemudian, Aminah mulai terserang sesak napas dan harus mendapatkan asupan oksigen. Keadaan di Subang kala itu, seluruh rumah sakit penuh dan pasokan oksigen sulit.

Aminah semakin sulit bernapas, dan saturasi oksigennya merosot hingga 56 persen. Tresia mendapatkan rumah sakit yang mau menerima sang ibu, namun lokasinya di Purwakarta.

Masalah lain menanti. Ambulans yang sedianya mengantarkan sang ibu ke Purwakarta dari Subang, masih dipakai. Aminah harus menunggu — dalam keadaan sesak napas berat — selama lima jam sebelum ambulans dapat menjemputnya.

“Cuma jarak beberapa kilometer dari rumah, ibu sudah tidak bergerak. Padahal oksigen masih terpasang, tabung oksigen masih ada [isinya],” tutur Tresia dengan suara bergetar.

Tresia merasa, dirinya kurang peka terhadap kondisi Aminah sehingga terlambat ditangani. Tapi di sisi lain, ia merasa tidak mendapat bantuan dari pemerintah di kala menghadapi situasi sulit saat pandemi ini.meninggal saat isoman

Tresia Wulandari dan ibunda, Aminah, semasa masih hidup.

Sejak ibunya dinyatakan positif Covid-19 hingga meninggal, tak satu pun aparat dari dinas kesehatan atau satgas setempat yang memantau kondisi ibunya. Semua penanganan selama ibunya isoman murni dilakukan pihak keluarga.

“Kita sudah laporan [bahwa] Bunda positif ke [perangkat] desa, terus sudah, tidak ada tindak lanjut apa-apa. Tidak ada dinas yang datang, tidak ada pendataan lebih lanjut,” ungkap dosen ilmu komunikasi ini.

Terpengaruh kabar hoaks dan minim pemahaman

Semasa hidupnya, Lubis tidak percaya Covid-19. Padahal, usahanya berdagang air mineral kemasan membuat dia berinteraksi dengan banyak orang dan membuat dia rawan tertular ataupun menularkan virus corona.

Sampai ketika Lubis sakit dengan gejala Covid-19 pun, menurut seorang tetangganya, Lubis menolak dibawa ke rumah sakit karena “takut di-Covid-kan.”

“Sering ngobrol dengan saya bahwa beliau salah satu yang tidak yakin dengan keberadaan Covid,” ujar sang tetangga, Iwan Hermawan, yang menyarankan Lubis melapor ke Satgas Covid-19 di RT dan RW agar dibawa ke rumah sakit.

“Sampai malam harinya pun, dia sudah sesak, mau dibantu dengan oksigen, dia juga menolak,” cerita Iwan.

Tanpa penanganan medis, kondisi Lubis terus memburuk. Hingga paginya, “Anaknya teriak-teriak, ‘Bapak meninggal, bapak meninggal’.”

Tetangga menghubungi puskesmas yang kemudian melakukan uji usap Covid-19 terhadap jenazah Lubis. Kakek 75 tahun itu diketahui terinfeksi virus corona, termasuk tujuh orang anggota keluarganya yang tinggal serumah.

Iwan menyebut, Lubis terpengaruh hoaks dari media sosial. Kepada Iwan, pria itu mengaku percaya pandemi Covid-19 adalah upaya konspirasi global dan rekayasa pemerintah.

Semua yang berkaitan dengan penanganan Covid-19, seperti vaksin dan uji usap, ditolak Lubis. Iwan menduga, sikap Lubis juga diikuti anak dan istrinya.

meninggal saat isoman

Namun setelah kematian Lubis, “Mungkin setelah orang tuanya meninggal, [mereka menjadi] yakin bahwa Covid itu ada. Mereka mau di-rapid [tes] dan sudah mendaftarkan diri untuk divaksin,” kata Iwan.

Selain hoaks, permasalahan lain yang menyebabkan tingginya tingkat kematian karena Covid di Indonesia adalah keterlambatan penanganan.

Seperti yang terjadi pada Saepudin,

Saat jatuh sakit, Saepudin tak menunjukkan gejala khusus, hanya mengaku sakit perut saja. Saepudin juga masih berselera makan dan beraktivitas mandiri, seperti salat dan pergi ke kamar mandi, kata sang istri Kuswati.

Namun kemudian, kisah Kuswati, “Tiga hari bapak tidak bisa bicara. Seperti sesak. Sakit memegang-pegang dada. Hari keempatnya meninggal.”

Hasil swap antigen pada jenazah Saepudin menunjukkan positif Covid. Begitupun pada Kuswati dan dua anaknya yang tinggal serumah.