November 29, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Mengenal Mustafa Kemal Ataturk, Tokoh Modernisasi Turki

Nama tokoh modernisasi Turki, Mustafa Kemal Ataturk kian ramai diperbincangkan setelah wacana penggunaan namanya sebagai salah satu jalan di Jakarta.

Sebelumnya, Duta Besar Indonesia di Ankara, Muhammad Iqbal, mengatakan Indonesia mengusulkan mengganti nama jalan di Jakarta dengan nama Ataturk.”Kita tahu bahwa nama pendiri bangsa Turki adalah Mustafa Kemal Ataturk.

Ia pendiri bangsa Turki, Ataturk sendiri artinya bapak bangsa Turki.” Lalu, siapa sebenarnya Mustafa Kemal Ataturk? Mengutip Britannica, Mustafa Kemal Ataturk adalah tentara, negarawan, dan tokoh reformasi pendiri Republik Turki. Namanya sangat masyhur sebagai tokoh modernisasi dan sekuler Turki karena upayanya memilah antara soal-soal agama dengan pemerintahan.

Ia lahir di Salonika, yang kini dikenal dengan nama Thessaloníki, pada 1881.

Ataturk memodernisasikan pendidikan dan hukum di Turki, pun juga mengadopsi gaya hidup masyarakat Eropa untuk dilakukan warganya. Salah bentuk adopsi ini adalah penggunaan huruf latin dan penggunaan nama bergaya Eropa dalam masyarakat Turki.

Mengutip laman resmi Otoritas Pariwisata Turki, ayah Ataturk bernama Ali Riza Efendi dan ibunya bernama Zubeyde Hanim. Semasa kecil, Ataturk belajar di sekolah Hafiz Mehmet Efendi, kemudian pindah ke Semsi Efendi atas keinginan ayahnya. Ataturk kehilangan ayahnya pada 1888, kala ia menempuh pendidikan dasar.

Ataturk juga sempat tinggal di perkebunan milik pamannya di Rapla, dan kembali lagi ke Salonika untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Selanjutnya Ataturk masuk ke SMP Salonika untuk Pegawai Negeri, kemudian pindah ke SMP Militer pada 1893.

Ataturk melanjutkan pendidikan militernya di SMA Militer Monastir dan masuk ke Sekolah Tinggi Militer di Istanbul. Ia lulus di 1902 dengan pangkat letnan dan melanjutkan pendidikannya di Akademi Militer. Pada Januari 1905, ia menyelesaikan pendidikan Akmil-nya dan lulus dengan pangkat kapten.

Mustafa Kemal Ataturk menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam Perang Kemerdekaan Turki. Pada 22 Juni 1919, Ataturk mengeluarkan Surat Edaran Amasya, yang menyatakan bahwa tekad dan keputusan bangsa Turki akan memulihkan pembebasan negara itu. Dalam surat itu, ia juga menyerukan pertemuan Kongres di Erzurum dan Sivas. Antara 23 Juli dan 7 Agustus 1919, para delegasi berkumpul di Erzurum.

Pertemuan kedua di Sivasi dilakukan antara 4 dan 11 September 1919. Dalam pertemuan ini, para delegasi membicarakan kegiatan yang harus dilakukan untuk membebaskan Turki dari kedinastian Ottoman.

Pada 23 April 1920, Turki untuk pertama kalinya mengadakan Majelis Nasional Agung Turki. Pertemuan itu merupakan tonggak penting menuju berdirinya Republik Turki.

Majelis Nasional Agung Turki bertugas untuk mempersiapkan dan mengesahkan undang-undang baru yang diperlukan untuk menyukseskan Perang Kemerdekaan Turki yang dimulai pada 15 Mei 1919.

Perang Kemerdekaan Turki diakhiri dengan Perjanjian Damai Lausanne pada 24 Juli 1923.

Pada 29 Oktober 1923 Republik Turki dideklarasikan dan Ataturk terpilih sebagai presiden pertama negara itu. Menurut konstitusi kala itu, pemilihan presiden diadakan setiap empat tahun sekali.

Kehidupan Pribadi Ataturk Ataturk

menikah dengan Latife Hanim pada 29 Januari 1923. Pernikahan mereka berlangsung hingga 5 Agustus 1925. Ataturk dikenal sebagai orang yang menyukai anak-anak, ia mengadopsi beberapa putri, yakni Afet (Inan), Sabiha (Gokcen), Fikriye, lkü, Nebile, Rukiye, Zehra dan seorang putra bernama Mustafa. Ataturk juga memiliki dua anak tambahan yang berada di bawah perlindungannya, yakni Abdurrahim dan Ihsan.

Semasa hidupnya, Ataturk menyukai kegiatan membaca, mendengarkan musik, menari, menaiki kuda, dan berenang.

Ia juga suka bermain biliar dan seorang pecinta alam. Ataturk meninggal pada 10 November 1938 di Istana Dolmabahce, Istanbul. Ia meninggal akibat penyakit liver yang dideritanya.

Ia sempat dimakamkan di Museum Etnografi di Ankara pada 21 November 1938. Setelah pembangunan Anitkabir (Makam Ataturk), ia dibawa ke tempat peristirahatan permanennya pada 10 November 1953.