October 18, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Leani Ratri Oktila: Tidak Menduga Dijuluki Ratu Badminton

Leani Ratri Oktila mencatatkan prestasi luar biasa usai berhasil mempersembahkan dua medali emas dan satu medali perak dari cabang badminton di Paralimpiade Tokyo 2020. Ratri meraih dua emas usai memenangi nomor ganda putri kategori SL3-SU5 dan ganda campuran kategori SL3-SU5. Sedangkan medali perak diraih atlet kelahiran Desa Siabu, Bangkinang, Riau 6 Mei 1991 itu dari nomor tunggal putri kategori SL4. Lebih dulu meraih gelar di ganda putri bersama Khalimatus Sadiyah, Ratri harus puas meraih perak di final tunggal putri. Ratri kemudian bangkit di partai penentuan juara ganda campuran saat berduet dengan Hary Susanto.

Julukan Ratu Parabadminton disematkan untuk Ratri lewat deretan prestasi yang gemilang. Seperti apa perjuangan Ratri berlatih badminton sejak kecil hingga mempersiapkan diri mengikuti Paralimpiade? Apakah Ratri masih akan berlaga di Paralimpiade selanjutnya? Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com bersama peraih dua medali emas dan satu perak badminton di Paralimpiade Tokyo 2020, Leani Ratri Oktila: Bisa diceritakan bagaimana masa kecil Anda dan kecelakaan yang membuat tangan dan kaki Anda patah? Saya main badminton sejak kecil, saat saya masih 7 tahun. Orang tua saya, terutama papa, ingin sekali anaknya bisa berprestasi di bidang olahraga. Kebetulan saya anak nomor 2 dari 10 bersaudara. Jadi ya mau tidak mau saya harus ikuti arahan dari orang tua untuk main badminton. Waktu masih SD itu saya sudah jadi juara di tingkat kecamatan sampai kabupaten.

Di tahun 2011, saya mengalami kecelakaan motor di Bangkinang, Riau. Saya menabrak mobil waktu itu dan kaki serta tangan saya patah. Dalam kondisi itu saya tidak dibawa ke dokter oleh orang tua saya, tapi di bawa ke alternatif. Yang mengobati Papa saya sendiri. Jadi tidak sempat dioperasi atau diobati dengan maksimal. Hasilnya, kalau tangan mungkin tidak terlalu berbeda sebelum patah dan setelah patah. Tapi kaki saya, tiga bulan patah saya masih belum bisa apa-apa, masih belajar jalan pakai tongkat. Di waktu masih pemulihan itu, di usia segitu masih bandel saya dulu, saya naik motor lagi diam-diam. Terus saya jatuh lagi, bukan ditabrak tapi saya jatuh sendiri dan kaki saya tertimpa motor di lokasi yang masih patah dan belum sembuh itu. Setelah kecelakaan terjadi, bagaimana nasib Anda sebagai seorang atlet badminton? Saya masih jadi atlet badminton. Tapi setelah kecelakaan kedua itu, orang tua malah tidak memperbolehkan saya main badminton lagi. Papa pernah bilang, “Ujung tombakku sudah patah, anakku tidak mungkin bisa main badminton lagi.” Papa cuma mau saya sembuh. Papa kasihan lihat saya waktu itu yang biasanya bisa pergi ke sana-sini keluar rumah, tapi ini cuma bisa di rumah saja. Karena saya tidak kehilangan anggota tubuh, saya sebenarnya merasa biasa-biasa saja. Tapi memang saya masih harus pakai tongkat kalau mau jalan kemana-mana.

Bagaimana perjuangan Anda bisa masuk NPC dan tampil di berbagai event? Sampai waktu itu Riau jadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Olahraga Paralimpik Nasional (Peparnas) 2012. Saya ketemu teman-teman saya dan mereka bilang kangen melihat saya main badminton lagi. Lalu saya ditawari main badminton di NPC Riau karena ada orang di sana yang mendengar ada atlet badminton Riau yang kecelakaan terus tidak main lagi. Saya sempat diminta ke Papa saya untuk main, tapi Papa saya bilang, “Anak saya sudah tidak main badminton lag.” Tapi waktu itu saya masih mau main, jadi saya latihan sembunyi-sembunyi dari Papa. Waktu saya mau main di Peparnas, saya bilang ke Papa mau ke kampus, padahal saya mampir ke gelanggang olahraga latihan di sana. Pertama kali ke Gelanggang Olahraga itu saya kaget melihat kok ada orang pakai kursi roda main bulutangkis. Terus teman saya bilang kalau saya bisa jadi juara di sini. Akhirnya saya bisa main di Peparnas waktu itu. Kebetulan saya bisa lolos ke final dapat satu emas dan satu perak. Waktu itu linesman sama wasitnya mengenali saya dan telepon ke adik saya bilang, “mbaknya main di sini” begitu. Adik-adik saya datang ke lapangan terus mereka nangis-nangis bilang, “Kenapa mbak main di sini? Mbak kan enggak cacat.” Mereka itu sedih karena yang main di Peparnas kan macam-macam dan menurut mereka saya tidak cacat. Lalu saya pulang dan bawa medali ke rumah saya tunjukkan ke Papa, dia senyum. Dari situ Papa dukung saya main badminton sampai dipanggil pelatnas 2013 ke Solo. Ajang multievent internasional pertama saya Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Saya bawa pulang satu emas dan dua perak waktu itu. Hal apa yang paling jadi kendala dalam latihan badminton setelah kecelakaan itu terjadi? Tidak ada yang berbeda buat saya. Latihan yang saya lakukan sama saja. Tapi mungkin dari sisi pelatih yang susah karena mereka kan harus bisa menempatkan program sesuai dengan disabilitas masing-masing atletnya. Kita sebagai atlet mau dikasih program apa sama pelatih, apapun pasti diselesaikan.

Papa bikin lapangan badminton di depan rumah. Kebetulan rumah saya adanya di pojok, luas banget. Anaknya Papa saya ini perempuan semua, jadi tidak ada teman sparingnya kalau latihan. Karena itu, Papa pindahkan lapangannya ke depan musala, jadi banyak orang yang nonton, yang lihat, dan ikut main juga. Jadi mulai ramai lapangan itu dan punya teman sparring. Rumah saya itu di pedalaman, masih banyak hutan. Kalau mau ke kota itu jauh sekali jaraknya sekitar 15 km. Saya cuma punya raket satu, kalau mau beli jauh karena harus ke kota. Tapi karena saya bandel, saya suka gosok-gosok senar raket pakai batu supaya putus karena saya itu paling malas kalau disuruh Papa latihan. Jadi saya cari akal bagaimana supaya saya tidak bisa latihan. Di kondisi senar putus itu, Papa saya rela jauh-jauh ke kota buat betulin senar raket saya Kalau petromaks, saya lupa tahun 2000-an itu listrik belum masuk ke kampung saya. Listrik baru masuk waktu saya sudah SMP. Jadi kalau mau main badminton siang-siang kan panas, kalau sore banyak angin. Nah waktu yang pas itu malam hari buat main dan latihan. Tapi karena tidak ada lampu, penerangannya pakai petromak. Kalau bolanya terlalu tinggi kan tidak kelihatan, jadi nunggu dulu bolanya turun kelihatan baru bisa. Tapi tetap saja waktu itu saya selalu berdoa semoga pas malam hujan, jadi kan saya tidak latihan, hahaha.

Tidak kebayang bisa dijuluki Ratu Badminton. Itu semua terjadi setelah 2018 di Dubai, terus dilanjut World Championship saya dapat medali emas di beberapa nomor. Sejak itu, akun badminton [di media sosial] bilang kalau saya Ratu Badminton. Mungkin karena saya turun di beberapa nomor dan masuk final terus dapat medali makanya disebut begitu, saya juga tidak tahu.