October 25, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Korban Pelecehan Seks di KPI Dituntut Cabut Laporan Oleh 5 Terlapor

BeritaIndo – Korban pelecehan seks dan perundungan diduga oleh lima pegawai KPI Pusat mengaku dipertemukan dengan lima terlapor pada awal pekan ini. Pertemuan itu disebut membahas penyelessaian masalah dengan cara damai di antara dua belah pihak.

Korban melalui kuasa hukumnya, Rony E Hutahaean, mengatakan pelapor dituntut mencabut laporan di kepolisian oleh kelima terlapor. ”Apalagi klien kami diminta mencabut laporan polisi di Polres Jakarta Pusat. Ini kan sesuatu yang aneh. Terduga kelima pelaku, dan itu adalah mereka bertemu berdasarkan informasi klien kami,” Ujar Rony.

Rony menyayangkan dan menilai janggal pertemuan tersebut. Apalagi dirinya tak dilibatkan dalam kapasitas mendampingi kliennya. ”Mestinya ini harus diletakkan dulu persoalan dengan baik dan disampaikan kalau memang ada niat perdamaian harus disampaikan ke Polres Jakpus, karena ini sudah masuk proses hukum,” Jelas Rony.

Rony juga menduga para terlapor memanfaatkan kondisi psikis korban pelecehan seks yang labil. Dia menduga, dengan kondisi tersebut kliennya mau menyetujui perdamaian tersebut dan tidak melanjutkan proses hukum.

”Berulang kali kami sampaikan bahwa klien kami terganggu psikologinya dan orangnya adalah labil, artinya dengan adanya kondisi klien seperti itu. Kami menduga bahwa dimanfaatkan kondisi klien kami pada saat itu,” Kata Rony.

Terlapor dugaan pelecehan dan perundungan pegawai KPI mengakui adanya pertemuan dengan korban dugaan pelecehan seks, MS, pada awal pekan ini. Pertemuan itu disebut membahas perdamaian di antara kedua belah pihak.

Salah satu terlapor berinisial RM, lewat pengacaranya bernama Anton, mengatakan pertemuan itu terjadi pada Rabu (8/9). Pada intinya pertemuan itu dilakukan untuk mencapai kesepakatan damai. Anton menyebut pihak kerabat terlaporlah yang meminta perdamaian.

Anton juga membenarkan pihaknya menyodorkan surat kesepakatan perdamaian hitam di atas putih dengan beberapa poin persyaratan. Salah satunya korban di minta mencabut laporan di Polres Metro Jakarta Pusat.

Anton kemudian mengungkapkan syarat perdamaian yang diajukan oleh pihaknya, yakni permintaan maaf dari korban dan juga rehabilitasi nama serta menganulir isi rilis yang sempat tersebar luas.

DIa menambhkan, pihaknya membantah adanya tekanan dari terlapor kepada MS. Anton menyebut mediasi untuk mencapai perdamaian itu berlangsung cair.

”Penekanan itu nggak ada, itu hanya negosiasi kalau kita mau berdamai. Hal yang wajar kalau klien saya minta dicabut karena saya dilaporkan dituduh melakukan pelecehan seksual. Klien saya minta cabut itu LP-nya lalu minta maaf rehabilitasi namanya, hanya itu, tapi dia keberatan.” Jelasnya.