October 25, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Kehabisan Uang, Taliban Sita Harta Mantan Pejabat Afghanistan

BeritaIndo – Bank Sentral Afghanistan pada Hari Selasa (14/09) mengatakan bahwa Taliban menyita uang tunai dan emas senilai lebih dari 12 juta dollar AS (Lebih dari Rp 170 Miliar) dari para mantan pejabat pemerintah. Taliban kemudian menyerahkan hasil sitaan tersebut ke bank.

Menurut sebuah pernyataan dari bank Sentra, penggeledahan oleh Taliban terjadi di kediaman mantan Wakil Presiden Amrullah Saleh, dan sejumlah pejabat tinggi pemerintah.

Sejak ambil alih kekuasaan di Afghanistan, Taliban juga mengambil alih kendali atas bank Sentral. Dalam sebuah cuitan, bank sentral memperlihatkan beberapa pria tampak serius menghitung tumpukan uang tunai.

Sejak Afghanistan dikuasai Taliban, bank-bank di Afghanistan kehabisan uang tunai. Beberapa di antaranya bahkan berada di ambang penutupan.

Bank-bank yang mengalami kesulitan lantas menyampaikan kekhawatirannya perihal kelangkaan uang tunai kepada Taliban. Sebagai respons, Taliban meluncurkan penyelidikan terhadap aset-aset para mantan pejabat pemerintah yang kemudian berujung pada terjadinya penyitaan aset.

Dalam pernyataan bank sentral, hanya Amrullah Saleh satu-satunya pejabat yang disebutkan namanya. Ia diyakini tengah berada di pengunungan Panjshir bersama para pejuang oposisi lainnya.

Sebelumnya, mantan presiden Afghanistan Ashraf Ghani juga dituduh melarikan diri dengan membawa uang jutaan dollar. Nammun Ghani membantah tuduhan tersebut dengan menyebutnya sebagai tuduhan tak berdasar.

Bank-Bank di Afghanistan pun terpaksa harus menjatah jumlah uang yang akan dikeluarkan di kantor-kantor cabangnya. Hal ini dilakukan agar bank tidak benar-benar kehabisan uang. Batas penarikan mingguan yang dilaporkan adalah sebesar 200$ sekitar Rp 2,8 juta.

Masalah keuangan di Afghanistan turut diperparah dengan dibekukannya aset asing bank sentral sejak Taliban mengambil alih kekuasaan.

Menurut keuangan bank tersebut, Ajmal Ahmadi, jumlah aset yang dibekukan diperkirakan sekitar 10Miliar Dollar As ( Lebih dari Rp 142 Triliun ).

Meski begitu, bank sentral yang dikendalikan Taliban mengklaim bahwa semua operasi komersial berlangsung dibawah pengawasan ketat dan melaporkan semua operasi berjalan lebih baik dari sebelumnya.