October 21, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

Hacker Sandera Data Saudi Aramco, Minta Tebusan Rp 700 Miliar

BeritaIndo – Saudi Aramco, perusahaan minyak terkaya di dunia saat ini, mengonfirmasi bahwa sejumlah file perusahaan mereka dikuasai oleh peretas, dan meminta tebusan 50 juta dollar AS  (sekitar Rp 724 miliar).

Menurut keterangan resmi dari Saudi Aramco, data yang bocor tersebut adalah data yang dimiliki oleh perusahaan kontraktor Aramco, alias pihak ketiga.

”Kami memastikan bahwa berimbas pada operasional, perusahaan terus mempertahankan postur keamanan siber yang kuat,” Tulis pernyataan Aramco.

Menurut laporan,jumlah data yang bocor yang diambil dari kontraktor Aramco mencapai 1TB, mencakup data tentang lokasi-lokasi penambangan minyak, gaji karyawan, hingga data sensitif milik klien dan karyawan Saudi Aramco.

Hacker pemeras mengumbar di situs darknet bahwa mereka telah menguasai data tersebut dan meminta tebusan 50juta dollar AS dalam bentuk mata uang Kripto Monero, jika Aramco ingin data tersebut dihapus.

Dengan membayar dalam bentuk mata uang kripto, peretas nampaknya berharap pihak berwenang akan kesulitan untuk melacaknya. Selain itu, di situs tersebut peretas juga menawarkan jika ada yang berminta membeli data milik Saudi Aramco, bisa menebusnya dengan harga 5 juta Dollar AS ( Sekitar  Rp 72 miliar).

Perusahaan energi memang kerap menjadi sasaran serangan siber. Sebelumnya, Colonial Pipeline, perusahaan sistem pipa minyak berbasis di Houston, Texas, AS, pada Mei 2021 lalu juga menjadi korban peretasan dan pemerasan.

Lebih dari 100 GB data informasi milik perusahaan dikuasai oleh peretas, sehingga membuat perusahaan itu menghentikan jaringan distribusi minyaknya di AS, sehingga pasokan minyak berkurang di kawasan timur Amerika Serikat.

CEO Colonial Pipeline dikabarkan membayaran tebusan 4,4 juta dollar AS atau sekitar Rp 63 miliar kepada kelompok peretas Rusia, DarkSide

Perusahaan di Timur Tengah juga menjadi semacam magnet bagi peretas, menurut laporan dari PricewaterhouseCoppers LLP. Tidak jelas siapa yang berada di balik insiden Aramco ini, Namun para peneliti siber mencatat bahwa serangan itu bukan bagian dari ransomware, dimana peretas menggunakan malware untuk merebut data pengguna, dan hanya melepaskannya setelah uang tebusan dibayarkan.