Berita Indonesia Terlengkap

Berita Indonesia Terlengkap

Bupati Langkat Nonaktif Kembali Diperiksa di Kasus Kerangkeng Manusia

BeritaIndo – Ditreskrimum Polda Sumatera Utara (Sumut) kembali memeriksa Bupati Langkat Nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin. Dia diperiksa terkait pengembangan dan pendalaman penyidikan kasus kerangkeng manusia di rumahnya.

Terbit Rencana Tampak memakai baju warna putih di lapisi rompi tahanan berwarna oranye, Di sebelah dia tampak duduk seorang pria yang merupakan penasehat hukumnya.

Sementara di seberang meja, tampak para penyidik melakukan pemeriksaan. Tim dari Polda dipimpin langsung oleh Dirkrimum Kombes Tatan Dirsan Atmaja. Pemeriksaan itu pun diketahui langsung di Gedung KPK di Jakarta.

Hadi mengatakan materi pemeriksaan itu terkait pengembangan dan pendalaman penyidikan. Sebelumnya, Polisi enetapkan 8 tersangka dalam kasus kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin Angin. Para tersangka terancam 15 tahun penjara.

”Tujuh orang inisial HS, IS, TS, RG, JS, DP, dan HG dipersangkakan pasal 7 UU RI No 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman 15 tahun +1/3 ancaman pokok,” Kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi saat di konfirmasi, Senin (21/3/2022).

Hingga saat ini,kedelapan tersangka belum dilakukan penahanan karena kooperatif serta penyidik masih mengembangkan peristiwa tersebut.

”Setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka, kedelapan orang ini belum dilakukan penahanan dengan pertimbangan bahwa penyidik masih melakukan pengembangan terhadap peristiwa ini,” Tambah Hadi.

Setelah itu, untuk proses pendalaman penyidikan. Polisi pun memeriksa istri dan adik perempuan dari Terbit Rencana. Tak hanya itu, juru masak, security hingga pengawas PKS milik Terbit pun diperiksa polisi.

Kasus ini berawal dari temuan Komisi Pemberantasan Korupsi mengenai adanya kerangkeng manusia di rumah Bupati Terbit saat melakukan penggeledahan dalam kasus korupsi. Kasus ini kemudian dialami oleh kepolisian, Komnas HAM, dan LPSK.

”Semuanya Sadis! Tapi, sepanjang melakukan advokasi terhadap korban kekerasan selaa kurang-lebih 20 tahun, saya belum pernah menemukan kekerasan sesadis ini,” Kata Edwin dalam konferensi pers di Gedung LPSK, Rabu (9/3).