Berita Indonesia Terlengkap

Berita Indonesia Terlengkap

Bos Intelijen AS: Putin Bersiap untuk Perang Panjang di Ukraina

BeritaIndo – Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai tidak akan mengakhiri perang di Ukraina dengan target menguasai Donbas. Putin diyakini bertekad membangun jembatan darat hingga ke wilayah yang dikuasai separatis pro-Rusia di Moldova, yang bertetangga dengan Ukraina.

Penilaian tersebut disampaikan oleh DIrektur Intelijen Nasional Amerika Serikat Avril Haines saat berbicara kepada Komisi Angkatan Bersenjata Senat AS pada Selasa (10/5) waktu setempat.

Dituturkan juga oleh Haines Bahwa intelijen AS juga memandang semakin besar kemungkinan Putin akan memobilisasi seluruh negaranya, termasuk memerintahkan darurat militer, dan menggandalkan kegigihannya untuk mengurangi dukungan Barat terhadap Ukraina.

”Kami menilai Presiden Putin tengah bersiap untuk konflik berkepanjangan di Ukraina, dimana dia masih berniat untuk mencapai tujuan di luar Donbas,” ungkap Haines dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Haines menyatakan bahwa intelijen AS berpikir keputusan Putin untuk memusatkan pasukan Rusia di wilayah Donbas, Ukraina bagian timur, hanya pergeseran sementara setelah kegagalan mereka dalam merebut Kiev di bagian Utara.

Pasukan Rusia, sebut Haines, masih berniat memenangkan wilayah di sepanjang pantai Laut Hitam, yang sebagian untuk mengamankan sumber daya air untuk Crimea, yang dicaplok Rusia dari Ukraina tahun 2014 lalu.

Namun, Haines juga menyatakan bahwa pasukan Rusia saat ini tidak cukup besar atau cukup kuat untuk merebut menguasai semua wilayah itu tanpa adanya mobilisasi tentara dan sumber daya yang lebih besar dari masyarakat Rusia.

Putin, menurut Haines, tengah menghadapi ketidaksesuaian antara ambisinya dan kemampuan militer konvensional Rusia saat ini.

”itu kemungkinan berarti beberapa bulan ke depan bisa melihat kita bergerak di sepanjang lintasan yang lebih tidak bisa diprediksi dan berpotensi meningkat,” sebutnya.

”Tren saat ini meningkatkan kemungkinan bahwa Presiden Putin akan beralih ke cara yang lebih drastis, mencakup dengan memberlakukan darurat militer, orientasi ulang produksi industri, atau opsi militer yang berpotensi meningkat untuk membebaskan sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya,” cetusnya.

Pasukan Rusia dinilai akan melakukan lebih banyak upaya dalam mengganggu pasokan militer Barat ke Ukrain, dan Moskow bisa saja berupaya membalas sanksi-sanksi ekonomi.

Haines menyebut bahwa Putin mengandalkan kemampuan untuk bertahan lebih lama dari dukungan Barat untuk Ukraina saat perang terus berlanjut.

”Putin kemungkinan besar juga menilai bahwa Rusia memiliki kemampuan dan kemauan yang lebih besar untuk menghadapi tantangan dibandingkan musuh-musuhnyam dan dia mungkin mengandalkan tekat AS dan UE (Uni Eropa) melemah dengan kekurangan pangan, inflasi dan harga energi semakin buruk,” tandasnya.