October 25, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

20 Tahun Tragedi WTC 11 September, Al-Qaeda Berpotensi Bangkit ?

BeritaIndo – Hari ini, 20 tahun lalu, 2,996 orang tewas. Nyawa mereka melayang dalam teror paling brutal sepanjang sejarah, yang dikenal sebagai tragedi 9/11.

Tak hanya paling mengerikan, tragedi 9/11 juga menjadi teror dengan kerugian terbesar di dunia. Angkanya mencapai US 25.122 Juta Dollar AS atau Rp 330,5 Triliun.

Pagi itu, 11 September 2001, 19 Militan yang terkait dengan kelompok ekstremis Al-Qaeda membajak empat pesawat. Mereka kemudian melakukan serangan bunuh diri dengan sasaran gedung di Amerika Serikat.

Dua dari pesawat ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center di New York City, pesawat ketiga menghantam Pentagon di Luar Washington DC, dan pesawat keempat jatuh di sebuah lapangan di Shanksville, Pennysylvania.

Para pembajak adalah teroris dari Arab Saudi dan beberapa negara Arab lainnya. Aksi itu dilaporkan dibiayai organisasi teroris Al-Qaeda yang dipimpin buronan Arab Saudi, Osama Bin Laden. Mereka diduga bertindak sebagai pembalasan atas dukungan Amerika terhadap Israel, keterlibatan dalam perang Teluk Persia, dan kehadiran militer AS yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Osama Bin Laden saat itu bersembunyi dengan bantuan Taliban saat memerintah Afghanistan dari 1996 hingga 2001. Amerika Serikat pun langsung menginvasi Afghanistan dan menggulingkan Taliban karena menolak menyerahkan para pemimpin Al-Qaeda setelah serangan 11 September 2001.

Kini, Taliban kembali berkuasa di Afghanistan. Menteri Pertahanan As Lloyd Austin mengatakan, kelompok ekstremis Al-Qaeda yang menggunakan Afghanistan sebagai pangkalan untuk menyerang Amerika Serikat 20 tahun lalu, mungkin mencoba beregenerasi disana menyusul keluarnya pasukan Amerika yang telah membuat Taliban berkuasa.

Hal itu diungkap Austin kepada sekelompok kecil wartawan di Kuwait City pada akhir lawatan empat hari ke negara-negara Teluk Persia. Dia mengatakan Amerika Serikat siap mencegah kembalinya Al-Qaeda di Afghanistan yang akan mengancam Amerika Serikat.

Selama 20 tahun pasukan AS berada di Afghanistan, aktivitas Al-Qaeda sangat berkurang.  Tetapi pertanyaan kini kembali muncul tentang prospek masa depannya dengan Taliban di Kabul.

Dalam perjanjian dengan pemerintahan Trump Februari 2020, pemimpin Taliban berjanji tidak mendukung Al-Qaeda atau kelompok ekstremis lain yang mengancam Amerika Serikat. Namun para pejabat AS meyakini bahwa Taliban mempertahankan hubungannya dengan Al-Qaeda, dan banyak negara, termasuk negara Teluk Arab. Mereka khawatir bahwa kembalinya Taliban ke Tampuk kekuasaan dapat membuka pintu bagi kebangkitan pengaruh Al-Qaeda.