October 24, 2021

BeritaIndo

Berita Indonesia Terlengkap

2 Pabrik Psikotropika di Yogya Dibongkar! Produksi Jutaan Butir Perhari

BeritaIndo – Polisi mengungkap praktik produksi obat-obatan ilegal khususnya Psikotropika di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Hasilnya, polisi meringkus tiga orang tersangka yang mengelola dua pabrik dengan hasil produksi sebulan mencapai 420 juta butir.

”Pengungkapan kasus ini berawal dari Jakarta kemudian kita kembangkan di wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan kemudian dikembangkan bahwa pabriknya di Yogyakarta,” Kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Agus Andrianto saat juma pers di salah satu pabrik Psikotropika di Jalan IKIP PGRI No 158 Pedukuhan Sonosewu, Kalurahan Ngestiharjo, Kapanewon Kasihan,Bantul.

Agus menjelaskan dari pengungkapan tersebut pihaknya mampu meringkus 10 tersangka. Sedangkan di Yogyakarta polisi meringkus 3 orang tersangka yang bertugas mengelola dua pabrik obat ilegal.

Ketiga tersangka itu adalah JSR Alias J (56) warga Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, LSK Alias DA(49) warga Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul dan WZ (53) warga Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Ketiganya mengelola dua pabrik yang memprofuksi pil Hexymer, LL atau Double L dan Dextro methophan.

”Tersangkanya disini ada tiga, dan 10 lagi dari wilayah-wilayah yang saya sebut termasuk Jakarta. Dan jelas ini temuan yang cukup besar,” Ucapnya.

”Selain itu pelaku yang ditangkap belum pernah terlibat atau masuk dalam jaringan memproduksi obat-obatan secara ilegal maupun Psikotropika,” Lanjut Agus.

Secara rinci, Dirtipnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Krisno H Siregar menyebut bahwa pada tanggal 13-15 September 2021 Subdit 3 Ditipidnarkoba Bareskrim Polri behrasil mengungkap kasus peredaran gelap obat-obatan keras dan Psikotropika oleh delapan orang tersangka dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jaktim.

Dari penanganan itu, polisi meyita barang bukti lebih dari 5 juta butir pil gololngan obat keras jenis Hexymer, Trihex, DMP, Tramadol, Double L hingga Aprazolam I. Dari hasil pengembangan, ternyata para tersangka mendapatkan barang tersebut dari Daerah Yogyakarta.

Pasalnya dari lokasi di Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, pihaknya menyida mesin-mesin produksi obat, berbagai jenis bahan kimia/prekursor obat hingga adonan/campuran berbagai prekursor siap di olah menjadi obat. Bahkan, pihaknya menyita obat-obat keras jenis seperti Hexymer, Trihex,DMP, DOuble L, Irgaphan 200mg yang sudah di kemas dan siap dikirim.

Tak berselang lama, tim gabungan melakukan penggeledahan dan menemukan pabrik pembuatan dan penyimpanan obat keras seperti informasi DA. Krisno mengungkapkan bahwa DA berperan sebagai penerima pesanan dari EY dan mengirim obat ke beberapa kota di DKI Jatim, Jabar, hingga Kalsel.

Berdasarkan keterangan para tersangka diketahui bahwa pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2018. Dimana dalam sehari bisa memproduksi 2 juta butir obat-obatan ilegal.

Menyoal modus operandi, ternyata para tersangka memproduksi obat-obatan yang sudah dilarang edar oleh BBPOM. Mengingat, obat-obatan tersebut masih dicari oleh kalangan tertentu untuk disalahgunakan.

Kemudian terkait dengan ancaman hukuman disangkakan pasal berlapis Seperti Pasal 60 UU RI No.11 Tahun 2020 tentang cipta kerja perubahan atas pasal 197 UU RI No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, Pasal 196 UU RI Nomor 36 tahun 2009 subsider Pasal Pasal 198 UU RI No 26 tahun  2009 tentang Kesehatan dan Pasal 60 UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara dan denda 200 juta rupiah.